Pengaruh Aplikasi Asam Humat dan Pemupukan Fosfat Terhadap Biomassa Karbon Mikroorganisme (C-mik) Tanah pada Pertanaman Jagung (Zea mays L.) di Tanah Ultisol

  • Fauzan Ag. Roni
  • Sri Yusnaini
  • M.A. Syamsul Arif
  • Ainin Niswati
Kata Kunci: asam humat, biomassa karbon mikroorganisme (C-mik), tanah ultisol

Abstrak

Tanah Ultisol merupakan tanah dengan tingkat kesuburan rendah yang dicirikan dengan kemasaman tanah yang tinggi (pH rendah), kapasitas tukar kation rendah, dan tingkat kejenuhan basa serta kandungan hara yang juga rendah seperti ketersediaan unsur hara P. Salah satu upaya untuk meningkatkan tingkat kesuburan yang rendah tersebut dilakukan dengan memberi perlakuan bahan organik seperti asam humat. tujuan penelitian ini untuk mempelajari pengaruh terbaik aplikasi asam humat dan pupuk fosfat , mempelajari pengaruh interaksi antara asam humat dan pupuk fosfat, dan mempelajari apakah terdapat korelasi antara C-organik tanah, kadar air tanah, pH tanah, dan suhu tanah dengan biomassa karbon mikroorganisme (C-mik) tanah pada pertanaman jagung di tanah Ultisol.  Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan aplikasi asam Humat 0 kg ha-1 (H0), 5 kg ha-1 (H1), dan 10 kg ha-1 (H2) yang dikombinasikan dengan pemberian fosfat 0 kg ha-1 (P0);  100 kg ha-1 (P1), 200 kg ha-1 (P2), dan dan 300 kg ha-1 (P3).  Nilai rata-rata biomassa C-mik, kandungan C-organik, pH tanah, kadar air tanah, suhu tanah, dan produksi jagung diuji dengan ortogonal polinomial pada taraf nyata 5 dan 1%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi asam humat dan pupuk fosfat tidak meningkatkan biomassa karbon mikroorganisme (C-mik) tanah pada pertanaman jagung di tanah Ultisol. Terdapat interaksi asam humat dan pupuk fosfat (P) terhadap biomassa C-mik tanah. Aplikasi asam humat dengan dosis 5 kg ha-1 (H1) yang bersamaan dengan pupuk fosfat 174,83 kg ha-1 menghasilkan biomassa C-mik maksimum yaitu 32,25 mg C-CO2 kg-1 hari-1.  Pemberian pupuk fosfat bersamaan dengan aplikasi asam humat 10 kg ha-1 (H2) menyebabkan peningkatan secara linier biomassa C-mik pada umur 90 HST, semakin tinggi pemberian fosfat sampai dengan 300 kg ha-1 pembentukan biomasssa C-mik masih terus meningkat, dan tidak terdapat korelasi antara C-organik tanah, kadar air tanah,  dan suhu tanah terhadap biomassa C-mik,  namun terdapat korelasi antara biomassa C-mik dengan reaksi (pH) tanah pada pertanaman jagung di tanah Ultisol. 

 

Kata kunci: Asam Humat, biomassa karbon mikroorganisme (C-mik), tanah ultisol.

##plugins.generic.usageStats.downloads##

##plugins.generic.usageStats.noStats##

Referensi

Bates, T.R. and J.P. Lynch. 2001. Root hairs confer a competitive advantage under low phosphorus availability. Plant and Soil 236: 243-250.
Buchari, H. 1999. Penetapan Karbon Mikrobial (C-mik) pada Dua Tipe Penggunaan Lahan (Alang-alang dan Hutan) dengan Metode Fumigasi-
Ekstraksi sebagai Indikator Degradasi Tanah. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Dian, U. 2018. Pengaruh kombinasi asam humat, jarak tanam dan jumlah bibit per lubang tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi (oryza sativa ‘pandan puteri’). J.Ilmu Pertanian dan Peternakan. 6(1): 8-19.
Febry, R.P. 2011. Pengaruh sistem olah tanah pada lahan alang-alang terhadap kandungan biomassa mikroorganisme tanah (C-mik) yang ditanami jagung (Zea mays L.). Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas lampung. Bandar Lampung. hlm. 21-30.
Franzluebber, A. J., D. A. Zuberer dan F. M Hons. 1995. Comparison of Microbiological Methods for Evaluating Quality and Vertility of Soil. Biology and Fertility of Soils. 19: 135-140.
Handayanto, E. dan K. Hairiah, 2009. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Pustaka Adipura. Yogyakarta.
Hasibuan, S. Y., M. M. B. Damanik, dan G. Sitanggang. 2014. Aplikasi pupuk SP-36 dan pupuk kandang ayam terhadap ketersediaan dan serapan fosfor serta pertumbuhan tanaman jagung pada ultisol kwala bekala. Jurnal Online Agroekoteknologi. 2(3): 1118–1125.
Jenkinson, D. S. And D. S. Powlson. 1976. The Effect of Biocidal Treatments on Metabolisms in Soil V. A Method for Measuring Biomass. Soil Biologi and Biochemistry. 8: 209-213.
Piccolo, A., S. Nardi, dan G., Concheri. 1992. Struktural characteristics of humic sub-stances as related to nitrate uptake and growth regulation in plant systems. Soil Biol. Biochem. 24:373-380.
Riniarti, D., A. Kusumastuty, dan B. Utoyo. 2012. Pengaruh bahan organik, pupuk p, dan bakteri pelarut phosfat terhadap keragaan tanaman kelapa sawit pada Ultisol. Jurnal Penelitian Pertanian Terapan. 12(3): 187-195.
Santi, L.M. 2016. Pengaruh asam humat terhadap pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao) dan populasi mikroorganisme di dalam tanah Humic Dystrudept. Jurnal Tanah dan Iklim. 40 (2): 87-94.
Septiana, L. M. 2012. Pengaruh Ekstraksi Campuran Kompos Bahan Organik dengan Dua Jenis Pengestrak Terhadap Biomassa Karbon Mikroorganisme (C-mik) pada Tanah Ultisol. Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung. 55 hlm.
Suwardi, E. M. Dewi, dan B. A. Hermawan, 2009. Aplikasizeolit sebagai karier asam humatuntuk peningkatan produksitanaman pangan. J. Zeolit Indonesia. 8(1): 78-87.
Tan, K. H. 1993. Principle of Soil Chemistry. Marcel Dekker Inc. New York.
Tikhonov, V.V., A.V. Yakushev, Y.A. Zavgorodnyaya, B.A. Byzov, dan V.V Demin. 2010. Effect of humic acid on the growth of bacteria. Soil Biology. 43(3): 305-313.
Diterbitkan
2026-02-03